BIARKAN SEJARAH BICARA TOLERANSI

masih SLTP/SMP, saya pernah mau dikeluarkan dari sekolah karena membuat tulisan yang berjudul "Valentine Budaya Sampah". Waktu itu wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berkata "tulisan mu itu seperti islam ortodok, perhatikan disini bukan hanya muslim tetapi juga ada kristen". tidak sampai disitu, waktu saya masuk sekolah ke SMA kepala sekolah menelpon pihak sekolah SMA mengatakan "Hati-hati ada anak radikal disekolah bapak bernama Chandra Purna Irawan". Informasi itu saya dapatkan dari wakil kepala sekolah yang sempat memanggil dan menceritakan ada telpon dari pihak sekolah SMP. Beruntung wakil kepala sekolah SMA mengatakan " tak usah kamu risaukan telpn itu, lanjutkan perjuangan mu".

Setelah saya duduk di kelas 1 SMA, saya sempat mau dihajar oleh ketua MPK dkk saya dibawa kepojok WC sekolah. ketua MPK mengatakan "Kamu tamu gak... disekolah kita bukan hanya orang Islam tetapi ada juga orang kristen... jangan terlalu vokal dakwah... sok sholeh kamu.. kamu harus toleran...!". Beruntung gak jadi di hajar karena info ini sempat terdengar oleh anak-anak eskul KARATE..kebetulan saya pendiri dan ketua eskul KARATE di SMA. Tidak sampai disitu, ketua MPK "marapkeun"/menyuruh preman" samping sekolah untuk menghajar. ALhamdulillah, tidak jadi meski setiap pulang sekolah agak ngeper juga :-)

Bicara toleransi kepada non muslim, biarkan lah sejarah yang bicara

Suatu Masa, Ketika Islam Menjadi Adidaya
Penyerahan kunci Istana Al-Hambra oleh Sultan Muhammad As-Shaghir kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada 2 January 1492 M menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol. Itu artinya, secara politik Islam sama sekali tidak memiliki hak terhadap Spanyol.

Namun berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol tidak serta merta mengakhiri kisah kaum muslimin di negeri itu, penyerahan kekuasaan justru merupakan awal dari sejarah kelam kaum muslimin di sana. Piagam Granada yang menjanjikan kebebasan beragama bagi kaum muslimin rupanya tidak berumur panjang. Pada tahun 1502 umat Islam diberi dua opsi, mameluk Kristen atau pergi meninggalkan bumi Spanyol. Artinya, menetap di Spanyol dengan tetap memeluk agama Islam sama artinya dengan bunuh diri. Banyak kaum muslimin yang memilih meninggalkan Spanyol, namun tidak sedikit yang memilih pindah agama secara dzohir, namun tetap beribadah secara Islami dengan sembunyi-sembunyi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum Moriscos.

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan kaum Moriscos dianggap sebagai sebuah ancaman. Sehingga antara tahun 1508-1567 keluar sejumlah peraturan yang melarang segala hal yang bernuansa Islam, baik pakaian maupun nama. Penggunaan bahasa Arab juga dilarang. Anak-anak kaum muslimin dipaksa untuk menerima pendidikan dari para pendeta Kristen. Puncaknya pada tahun 1609-1614 sebanyak 300.000 Moriscos diusir dari Spanyol oleh Raja Philip III. Benar-benar sebuah kenyataan sejarah yang pahit dan menyedihkan.

Dari Spanyol mari kita pindah ke belahan bumi yang lain, tepatnya ke Turky tempat dimana kekhalifahan Ottoman berpusat. Setelah mendengar penyiksaan yang dilakukan penguasa Spanyol terhadap kaum muslimin, Sultan Salim I marah besar, dia mengeluarkan Dekrit yang berisi perintah kepada seluruh penganut Yahudi dan Nasrani yang berada di bawah kekuasaannya untuk memilih satu dari dua opsi, tinggal menetap dengan catatan memeluk agama Islam atau pergi meninggalkan Tanah Kekhalifahan. Mendengar Dekrit tersebut, Syaikh Ali Afandi At-Tirnabily selaku Mufti Ottoman saat itu menyampaikan penolakannya terhadap Dekrit Sultan. Mufti menjelaskan bahwa Dekrit tersebut tidak boleh dilaksanakan sekalipun kaum muslimin disembelih di negeri-negeri Salib. Mufti juga menjelaskan bahwa selamanya tidak ada paksaan dalam beragama.

Akhirnya Sultan Salim menarik keputusannya dan membiarkan penganut Yahudi dan Nashrani tinggal dengan aman dan damai di bawah pemerintahannya. Iya, mereka semua tinggal dengan aman dan damai disaat pemerintah Spanyol menyembelih ratusan ribu kaum muslimin di negaranya.

Allahu Akbar.. Betapa agungnya Islam..
Batapa agungnya peradaban Islam…
Sikap Sultan Salim yang tunduk pada rambu-rambu keislaman sudah cukup sebagai jawaban bahwa Islam bukan teroris, namun sebagai rahmatan lil 'aalamin. Dimana bila Islam berkuasa, dia akan menjadi pengayom bagi semua.

Andai Islam intoleran seperti yang mereka tuduhkan, tentu tidak akan satu Yahudi atau satu Kristenpun yang tersisa di tanah Andalus, Turky, Mesir, Lebanon, Jordan dan sejumlah negara lainnya saat Islam berkuasa di sana.
Inilah sejarah kami…

Jadi tak usah mengajari kami soal toleransi.

Komentar