Kartosoewirjo Tembus Peluru

Sabtu 9 Zulkaedah 1434 / 14 September 2013 18:53

Laporkan iklan?

SETELAH mendarat di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Kartosoewirjo dibawa ke sebuah lokasi di mana tiang papan pengikat sudah menunggu. Petugas militer mengikat Kartosoewirjo pada tiang tersebut, disaksikan beberapa pejabat yang hadir dan regu tembak 12 orang siap menembak mati Kartosoewirjo. Tak ada yang tahu pada senjata siapa peluru disarangkan.

Namun sesaat setelah komandan memberi instruksi, beberapa peluru menembus dada sebelah kiri Kartosoewirjo. Terakhir, komandan regu penembak melakukan tembakan tambahan jarak dekat sekali. Kartosoewirjo dieksekusi regu tembak pada 12 September di Pulau Ubi. Dia pun kemudian dimakamkan di sana.

Kartosoewirjo memberi pesan terakhir pada keluarganya sebelum dieksekusi regu tembak TNI. Pemimpin DI/TII ini juga mewariskan sejumlah barang pribadinya kepada keluarganya. Jam tangan Rolex dan pulpen Parker. Keluarga menerima kiriman barang-barang pribadi Kartosoewirjo yaitu piyama bermotif kotak-kotak cokelat, jam tangan Rolex, pulpen Parker, tempat rokok cap kuda dan gigi palsu,”

Sebelum dihukum mati sempat ada acara makan siang Kartosoewirjo dengan rendang Padang. Sebelum dieksekusi regu tembak TNI, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo punya permintaan khusus. Dia meminta diizinkan agar bisa bertemu keluarga, makan rendang, dan merokok. TNI mengabulkan permintaan Kartosoewirjo.

Tapi, rendang yang diberikan tak disentuhnya sama sekali. Dalam jamuan terakhir itu, selain sang istri, ikut datang anak-anak Kartosoewirjo yakni Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti. Setelah bertemu keluarga, Kartosoewirjo kemudian melakukan salat taubat, mengenakan pakaian putih hitam. Setelah salat taubat, kemudian tangan Kartosoewirjo diborgol petugas dan dimasukkan ke dalam sela, tempat di mana ia menunggu untuk dibawa dengan kapal ke Pulau Ubi

Kartosoewirjo oleh anak kandungnya Sardjono Kartosoewirjo dianggap sebagai manusia biasa dan juga tembus peluru. Sementara Kematian yang dialami Kartosoewirjo melalui tiang gantungan hanyalah perpindahan roh dari raga ke tempat lainnya.

Laporkan iklan?

Pada hari terakhir pelaksanaan eksekusi mati 5 September 1962 ada empat permintaan Kartosoewirjo kepada penguasa saat itu. Pertama pertemukan dia dengan perwira-perwira terdekat DI/TII. Kartosoewirjo dalam permintaan pertamanya menginginkan bertemu dengan perwira-perwira terdekat. Kedua, Kartosoewirjo minta eksekusinya disaksikan oleh perwakilan keluarga.

Namun permintaan ini juga ditolak dengan alasan bertentangan dengan budaya. Kedua, saat eksekusi berlangsung, Kartosoewirjo memohon hadirkan perwakilan keluarganya. Ketiga, jenazahnya minta dimakamkan di makam keluarga dan keempat, pertemukan Kartosoewirjo dengan keluarga sebelum eksekusi mati dilaksanakan. Dari keempat permohonan tersebut hanya satu yang dipenuhi oleh Mahkamah Darurat Perang yaitu bertemu dengan pihak keluarga. [news indonesian line]

Komentar