Pada papan yang tergeletak di sisi utara nisan batu tertera nama Raja Galuh Pangauban Gara Tengah - Sang Maha Raja Cipta Permana Prabu Digaluh. Jika benar, maka tokoh ini yang bernama Ujang Ngekel yang berkuasa di Galuh tahun 1595 menggantikan ayahnya yaitu Maharaja Sanghyang Cipta yang mendirikan kerajaan Galuh Gara Tengah di daerah Cibodas dengan pusat pemerintahannya di Salawe tahun 1580-1595.
Walau pada tahun tersebut Panembahan Senopati di Mataram telah menanamkan pengaruhnya di Galuh, namun belum intensif mengekspoitasi kekuasaannya. Sehingga Ujang Ngekel masih menggunakan gelar "Prabu" dengan nama nobatnya Prabu Galuh Cipta Permana. Ujang Ngekel adalah putra kedua dari Maharaja Sanghyang Cipta, pendiri Galuh yang berdiri sendiri setelah kerajaan Pajajaran runtuh oleh serangan Banten.
Maharaja Sanghyang Cipta adalah putra Prabu Haur Kuning (Nusaherang Darma, Kuningan). Saudara tertua Ujang Ngekel bernama Tanduran Ageung yang diperistri oleh Rangga Permana dan menjadi penguasa di Galuh Kertabumi dengan gelar Prabu Dimuntur. Sedangkan adik Ujang Ngekel bernama Sanghyang Permana atau Sanghyang Balan(y)iksa menjadi penguasa di Kawasen.
Ujang Ngekel yang masih menganut agama hindu begitu mencintai Tanduran anjung, putri Apun Di Anjung bernama Pangeran Mahadikusumah atau disebut juga Maharaja Kawali, Penguasa Kawali 1592-1643 yang sudah memeluk agama Islam karena sejak 1570, Kawali sudah berada dibawah pengaruh Cirebon. Maka akhirnya Ujang Ngekel bersedia memeluk agama Islam kemudian menikah dengan Tanduran Anjung dan memiliki putra bernama Ujang Ngoko yang kelak dikenal sebagai Adipati Panaekan, penguasa Galuh Gara Tengah di Cineaam Tasikmalaya tahun 1618-1625.
Jadi, semenjak kekuasan Maharaja Sanghyang Cipta berakhir, di wilayah galuh terdapat tiga pusat kekuasaan, Yaitu Kertabumi, Gara Tengah dan Kawasen yang masing-masing berusaha menjadi penerus Kerajaan Galuh. (Pandu Radea/tapakkaruhun)
Kabuyutan Salawe terletak di Cimaragas.
Komentar
Posting Komentar