Bagaimanakah KHILAFAH nanti akan membayar HUTANG?

Apakah Prabowo akan membayar hutang-hutang ini nanti? Atau mau gali lobang gali empang model JOKOWI ? (menurut YM)

Bagaimanakah KHILAFAH nanti akan membayar HUTANG?

Hutang luar negeri merupakan senjata berbahaya yang menjadi alat negara-negara Kapitalis dalam menguasai negara-negara BERKEMBANG-KEMPIS. Hutang yang semakin meningkat akan semakin menyukarkan negara peminjam untuk melunasinya, kareba sangat mencekik dan bahkan, ada negara yang sehingga terpaksa menggadaikan aset nasionalnya untuk membayar hutang tersebut. Ironinya, bukan semua hutang tersebut adalah kepunyaan pemerintah, melainkan perusahaan swasta yang juga turut menikmati ‘bantuan’ tersebut, sehingga negara terpaksa menjaminnya.

Sebelum membahas hal persoalan di atas, maka sebagai Muslim, kita hendaklah meletakkan kerangka berfikir yang benar terlebih dahulu, yakni kita mesti keluar dari keadaan fakta yang ada sekarang ini. Kerangka berfikir kita hendaklah syar’i dan syar’i semata-mata saja. Janganlah di campur-adukkan dengan undang-undang kufur yang ada di dalam sistem Kapitalis ini. Kita berbicara dalam konteks Daulah Khilafah yang menerapkan hukum Allah dan Rasul dan dalam pemerintahan Daulah Khilafah, tidak dibenarkan seorang individu Muslim ataupun negara melakukan pendekatan dan penyelesaian selain daripada hukum Islam, termasuk dalam hal hutang luar negeri ‘warisan rejim terdahulu yang di bangun dengan sistem kufur’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kita, baik selaku individu maupun penguasa di dalam Daulah Khilafah Islamiyah, untuk selalu terikat dengan berbagai transaksi (akad), baik antara sesama Muslim maupun antara Muslim dengan orang-orang atau negara kafir. Dengan syarat, selama transaksi atau akad tersebut tidak bertentangan dengan sistem hukum Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” [TMQ al-Ma’idah (5):1]

Ayat ini berbentuk perintah (dengan kategori wajib) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum Muslimin untuk selalu bertindak sesuai dengan kontrak (akad) yang telah mereka lakukan. Hutang luar negeri, baik yang dilakukan oleh perorangan, institusi/perusahaan, maupun negara adalah termasuk dalam salah satu jenis akad, yaitu transaksi hutang-piutang. Apabila seseorang, perusahaan, ataupun negara, berhutang dengan pihak lain baik dengan pereorangan, institusi/perusahaan, maupun negara lain, maka mereka wajib menunaikan kontrak itu hingga transaksi tersebut selesai/berakhir, yaitu dilunaskan segala hutang yang ada.

Berubahnya keadaan masyarakat ataupun sistem pemerintahan dan undang-undang tidak menjadi gugurnya semua hutang. Misalnya, hutang yang dilakukan oleh seseorang, sebuah perusahaan ataupun pemerintah sebelum berdirinya Daulah Khilafah, tetap menjadi hutang yang wajib dibayar oleh mereka. Jika Khilafah telah berdiri, sementara hutang belum dilunaskan, transaksi hutang-piutang yang sudah mereka akadkan/sepakati tidak gugur begitu saja. Hukum untuk menepati berbagai akad adalah wajib, selama akad-akad tersebut tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Di samping itu, Daulah Khilafah, tatkala baru berdiri nanti, mestilah memperhatikan kedudukan/keadaan politik antarabangsa. Dalam hal ini, Daulah mesti menciptakan gambaran yang baik di tengah-tengah masyarakat antara-bangsa, sebagai Daulah yang adil, bertanggung jawab dan berusaha mendapat dukungan masyarakat antar-bangsa didalam menghadapi negara-negara besar yang memusuhi dan memerangi Khilafah. Salah satu ‘manouver’ (percaturan) yang akan dilakukan Khilafah dalam menarik perhatian masyarakat antar-bangsa adalah dengan tetap membayar sisa dari hutang pokok ‘rejim’ sebelumnya.

Jadi, bagaimana caranya Daulah Khilafah membayar sisa dari hutang pokoknya?, dari manakah dana yang akan diperoleh Daulah Islam ini nanti untuk membayar hutang-hutang ‘rejim’ sebelumnya ?

Menanggapi persoalan ini, ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh Daulah Islamiyah, diantaranya:

(1)    Mesti dipisahkan antara hutang luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya dengan hutang yang dilakukan oleh pihak swasta (baik perorangan maupun perusahaan). Hal ini karena terkait dengan persoalan ‘siapakah’ yang berkewajiban untuk membayar. Jika hutang itu hutang swasta, maka merekalah yang wajib membayar. Sebaliknya, jika hutang itu melibatkan penguasa ‘rejim’ sebelum munculnya Khilafah, maka barulah Khilafah (selaku) penguasa yang baru, wajib mengambil alih sisa hutangnya. Ini kerana akad terdahulu itu adalah berlaku di antara ‘government to government’ (penguasa dengan penguasa).

(2)    Sisa pembayaran hutang luar negeri hanya meliputi sisa hutang pokok (prinsipal) saja, tidak termasuk bunga (riba)nya, kerana, syariat Islam jelas-jelas mengharamkan apa saja bentuk riba, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman.” [TMQ al-Baqarah (2):278].

Ayat ini mewajibkan Daulah Islamiyah, individu maupun perusahaan mana pun yang memiliki hutang luar negeri, membayar/melunaskan sisa dari pokoknya saja dan diharamkan sama sekali untuk membayar bunga/riba hutang tersebut.

(3)    Meskipun diwajibkan untuk melunaskan sisa dari pokok hutang luar negeri, Daulah Khilafah mestilah menggunakan berbagai cara untuk meringankan bebannya dalam pembayaran; boleh dilakukan lobi agar pihak penghiutang bersedia memberikan cut off (pemutihan). Jika langkah ini berhasil, berarti ia tidak lagi menjadi beban Daulah. Namun jika cara ini gagal, untuk mengurangkan tekanan beban pembayaran dalam tempo waktu yang amat pendek, boleh diminta rescheduling (penjadwalan kembali) pembayaran hutang yang lebih panjang waktunya.

(4)    Hutang ‘rejim’ yang sebelumnya, akan dibayar oleh Daulah dengan menyita seluruh harta kekayaan yang dimiliki secara tidak sah oleh penguasa ‘rejim’ sebelumnya serta kroni-kroni mereka. Deposit (harta/duit simpanan) mereka di berbagai Bank luar negeri baik di Switzerland, Kepulauan Cayman, Singapura dan negara-negara lain, akan dijadikan jaminan oleh Daulah bagi pembayaran sisa hutang luar negeri. Jumlah deposit harta kekayaan para penguasa Muslim yang zalim, yang ada di luar negeri ketika ini sebenarnya ‘lebih dari cukup’ untuk melunaskan warisan hutang luar negeri ‘regim’ sebelumnya. Namun, seandainya jumlah keseluruhan deposit harta kekayaan mereka masih kurang untuk melunasi sisa hutang, khilafah haruslah mengambil alih hutang tersebut dengan mengambil masukan dari pendapatan Daulah. Misalnya, Daulah boleh menggunakan harta yang berasal dari diwan jizyah, "usyuriyah" atau dari mana saja lembaga usaha milik Daulah seperti BUMN. Khilafah haruslah menghindari sejauh mungkin penggunaan harta yang berasal dari pemilikan umat (seperti hasil hutan, barang tambang, dan sebagainya) untuk pembayaran hutang. Sebab, yang berhutang adalah penguasa ‘rejim’ sebelumnya, bukannya rakyat dalam ‘rejim’ tersebut.

(5)    Sementara itu, hutang luar negeri yang dilakukan oleh pihak swasta (baik secara individu maupun perusahaan) maka perkara ini diserahkan  kepada mereka untuk membayarnya. Misalnya, boleh dengan menyita dan menjual aset usaha yang mereka miliki. Jika jumlahnya masih kurang untuk menutupi hutang luar negerinya, Daulah Islamiyah boleh mengambil secara paksa harta kekayaan maupun deposit (harta/duit simpanan) para pemilik perusahaan sebagai jaminan pembayaran hutang luar negeri mereka. Kenyataannya, amat banyak para konglomerat yang memiliki simpanan harta kekayaan peribadi yang luar biasa jumlahnya dan disimpan di luar negeri. Terhadap simpanan mereka di luar negeri, Daulah boleh menjadikannya sebagai jaminan pelunasan hutang-hutang mereka. Namun, jika jumlah harta kekayaan mereka belum mencukupi juga, maka Daulah Khilafah mestilah mengambil-alih dan membayar hutang-hutang mereka, kerana Daulah adalah penjaga dan pemelihara (ra’in) atas seluruh rakyatnya.

Perkara penting yang perlu diperhatikan adalah, baik individu, masyarakat maupun Daulah, hutang yang dilunaskan itu hendaklah jumlah pokok (prinsipal)nya saja, dan haram sama sekali untuk membayar walau satu sen pun jumlah riba yang ada.

Demikianlah, beberapa langkah praktis yang boleh dilakukan oleh Daulah Islamiyah untuk mengatasi beban warisan hutang luar negeri ‘rejim’ penguasa sebelumnya. Penyelesaian ini hendaklah dilakukan tanpa mengganggu gugat aset harta kekayaan yang dimiliki oleh rakyat, yang dikelola oleh Daulah untuk kemaslahatan dan kemakmuran seluruh masyarakat.

Penyelesaian ini, selain mengikut jalan yang Allah ridhai, pada masa yang sama, akan dapat mencegah cengkaman negara-negara Barat Kapitalis atas negeri-negeri kaum Muslimin. Ia juga akan dapat memutuskan ketergantungan yang membahayakan negeri-negeri Islam kepada negara kuffar penjajah. Tambahan lagi, penyelesaian yang dilakukan secara syar’i ini pastinya akan memberikan keyakinan diri yang amat besar bagi kaum Muslimin bahwa mereka memiliki hukum dan digniti yang jelas dan sempurna dan kaum Muslimin mampu untuk menghadapi apa saja yang terjadi di bawah naungan Khilafah.

Namun demikian, saat ini tidak ada satu negeri Islam pun atau seorang penguasa dari semua penguasa Muslim yang ada dan yang berani secara tegas untuk memutuskan ikatan hutang luar negeri yang mereka hadapi, berdasarkan hukum Allah. Sungguh malang bagi umat Islam karena pemimpin mereka, walaupun dilihat seolah Islamik, namun masih tidak dapat lari dari kerangka berfikir sekular Kapitalis dan langsung tidak mempunyai gambaran yang jelas dan terperinci tentang hukum Islam. Lagi pula, mereka masih menggunakan undang-undang kufur dan membayar hutang ‘rejim’ yang ditinggalkan sebelumnya yang dicampur adukkan terus dengan jumlah riba yang begitu besar dan berlipat ganda, walhasil hakikatnya mereka memahami bahwa keharaman riba adalah hal yabg qath’i di dalam Al-Quran dan juga Sunnah. Firman Allah SWT,

“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian adalah disebabkan mereka berkata: “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba” padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya lalu ia berhenti (dari mengambil riba), maka apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum pengharaman itu) dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang mengulangi (perbuatan mengambil riba itu) maka orang itulah adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [TQM al-Baqarah (2):275]

Sabda Rasulullah SAW,

“Rasululllah saw melaknat pemakan riba (yang mengambil riba), yang membayar riba, yang menjadi pencatat dan dua orang yang menjadi saksi dan baginda bersabda, ‘Mereka semua sama” [HR Muslim]

Wallahu a’lam.

Diedit bahasanya sedikit dari HT Malaysia oleh Muhammad Nursyamsi)

Komentar