NALAR ITU TERUS DISIHIR HINGGA BABAK AKHIRNYA ...

Oleh : Nasrudin Joha

Kelakuan lembaga survei yang menggunakan sarana Quick Qount untuk 'pengkondisian opini' telah mampu digagalkan oleh segenap umat. Suara-suara Umat yang tak percaya lembaga survei, telah menjungkirbalikkan lembaga survei sekaligus menggagalkan 'pengkondisian' nalar umat untuk dipaksa sebagai pihak yang kalah dan diminta pasrah, legowo dengan kekalahannya.

Skenario kedua sedang berjalan, semua pihak diminta menunggu pengumuman resmi otoritas KPU sebagai lembaga penyelengara pemilihan. Pada tahap awal, KPU akan menerbitkan angka-angka yang relevan, pada batas prosentasi suara masuk yang memungkinkan, sesuai dengan aspirasi yang berkembang ditengah umat.

Setelah kepercayaan umat menumpah ke KPU, semua gembira dengan up date suara KPU, dibabak selanjutnya, pada prosentasi yang semakin mendekati angka 100 %, KPU mulai menggulirkan kabar kekalahan umat. Seiring masuknya tabulasi suara, prosentasi yang mendekati 100 % dan pada puncaknya KPU mengumumkan kekalahan umat, tepat pada garis finis 100 %.

Saat itu, umat baru tertegun, diam tak bergerak, kembali gemetaran. Ternyata, hasil akhir KPU tidak beda dengan apa yang di proklamirkan banyak lembaga survei selama ini.

Umat terperangah, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Para pemenang, rezim yang durjana akan berulang-ulang sesumbar agar umat menerima kekalahan, menghentikan perdebatan, dan segera bersatu untuk membangun bangsa, memaksimalkan energi untuk menatap masa depan, dan segera mengakhiri krisis Pilpres.

Seraya, dengan sombong akan mengarahkan semua warga negara taat hukum, dan meminta perbedaan pandangan itu diskusikan secara hukum, diselesaikan melalui MK. Inilah, kuburan politik kedua.

Umat dipaksa 'untuk menerima kekalahan yang curang' dan dipojokkan untuk mengadu ke MK. Umat, dipaksa untuk uji matematis di MK, bukan mengadili kecurangan di MK. Dan akhirnya, sekali lagi umat dikalahkan, sekali lagi rezim pembohong menguasai negeri ini, dan sekali lagi umat akan tiada henti hidup dalam kezaliman dan penindasan, setidaknya untuk Iima tahun Kedepan.

Karena itu wahai Umat, siapkan skenario 'People Power' secara damai dengan matang, mulailah persiapkan bekal untuk mengadili reprepresif dan anti Islam, di Jakarta, bersama saudara muslim lainnya.

Kalian tidak mungkin menambatkan tali kepercayaan, kepada rezim yang berulang kali menebarkan dusta dan pengkhianatan. Kalian, tidak boleh terima dengan seluruh dusta yang ada, kemudian diajak berdamai, bersalaman dan berpelukan dengan rezim, padahal tangan rezim masih berlumuran darah-darah pengkhianatan.

Kalian dipaksa menyerah pasrah, menerima kekalahan sebagai takdir, padahal itu buah dari kecurangan. Kalian, yang memiliki kemampuan memimpin negeri, dipaksa tunduk menjadi warga biasa, dan dikendalikan para pemimpin amatiran yang terbukti bohong dan khianat.

Karena itu, siapkan seluruh perbekalan, siapkan seluruh kesiapsiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Ingat ! Kalian adalah umat Islam, cucu Thariq Bin Ziyad. Kapal itu telah kita bakar, kita tak mungkin kembali kecuali telah meraih kemenangan. [].

Komentar