Pilpres kali ini cukup unik. Baik 01 dan 02 semuanya ada ulamanya.
Di kubu 01, ada ustadz Yusuf Mansur, ada Tuan Guru Bajang, dan tentu KH Ma'ruf Amin sendiri.
Di kubu 02, ada Habib Rizieq Shihab, ustadz Abdul Somad, ustadz Arifin Ilham, Aa Gym, ustadz Bachtiar Nasir.
Saya menghormati beliau beliah semua tanpa kecuali. Kontribusi mereka terhadap Islam ga perlu diragukan lagi.
Ust Yusuf Mansur dengan PPPA nya sukses membangun ekonomi umat di berbagai titik daerah di Indonesia.
Tuan Guru Bajang, mantan Gubernur NTB yg hafal Qur'an, berhasil mengubah wajah Lombok menjadi Negeri 1000 Masjid.
KH Ma'ruf Amin apalagi. Pakar ekonomi syariah yg pemikirannya sangat dibutuhkan umat.
Habib Rizieq Shihab, ulama konsisten yg mengambil peran "nahi mungkar" di Indonesia. Sebuah bagian yg jarang mau diambil sama ustadz ustadz di Indonesia karena resikonya sangat besar.
Ustadz Abdul Somad, ulama muda yg menolak tawaran jadi cawapres, menolak pemberian mobil mobil mewah dari jamaahnya, dan memilih utk terus dakwah di hutan hutan pedalaman Riau.
Aa Gym ? Jangan ditanya. Dulu nyawa Aa Gym dhargai 100juta dari bandar bandar judi di Bandung gara-gara bisnis judi menurun karena aksi santri DT memberantas perjudian.
Terus, ulama mana yg harus diikuti untuk pilpres ini?
Sy ikut nasehatnya Imam Syafi'i: carilah ulama yg panah panah musuhmu mengarah kepada mereka.
Siapa yg dakwahnya dihambat dimana mana? Siapa yg pernah ditembak pakai gas air mata dengan brutal oleh aparat2 penguasa? Siapa yg dijerat 13 kasus dan sampai detik ini 1 kasus pun ga pernah terbukti? Siapa yg sering dipersekusi? Dikriminalisasi? Diberitakan yg buruk buruk?
Semua adalah para ulama di kubu 02.
Perhatikan polanya. Kenapa setiap ada perlawanan dari para ulama ini, ga lama kemudian muncul fitnah terhadap mereka?
HRS menolak utk membatalkan aksi 212 yg fenomenal itu. Ga lama, cerita tentang "chat mesum" pun beredar. Dan menjadi bahan gorengan media media yg udah ga punya lagi idealisme jurnalistiknya.
UAS secara terbuka mendukung Prabowo. Hasilnya, cerita tentang istri kedua dan mobil mobil mewah pun muncul kemudian.
Bagaimana dg ustadz Bachtiar Nasir? Tidak sampai 1 bulan sejak peristiwa 212, sebagai Ketua GNPF MUI ia dipanggil Bareskrim Polri atas kasus pencucian uang. Terbukti? Tidak.
Perhatikan pula partai pendukungnya. Ulama kubu manakah yg berada dlm 1 kelompok dg partai jawara korupsi, partai penolak syariat, dan partai pendukung penista agama?
Kalau alasan mendukung kembali rezim ini karena selama berkuasa umat Islam tetap bisa sholat, tetap bisa naik haji, tetap bisa mengaji, mohon maaf, zaman Belanda pun umat Islam tetap bisa sholat, tetap bisa naik haji, tetap bisa mengaji. Toh KH Hasyim Asyari, pendiri NU, tetap menggelorakan semangat jihad mengusir Belanda. Tidak terkecoh dg taktik penjajah yg memberi ruang utk beribadah.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para ulama 01, di pilpres kali ini saya akan mengatakan pada para ulama di kubu 02
Bukan saya fanatik Prabowonya tapi saya melihat siapa yang membersamainya
Masih ingat akan celotehan TIDAK BUTUH SUARA UMAT MUSLIM?
Maafkan kami... karena kami:
Sami'na Wa Atho'na..
Kami Mendengar dan Kami Taat..
Komentar
Posting Komentar