Oleh : Nasrudin Joha
Nampaknya, babak baru peristiwa penusukan Wiranto telah sampai pada program sapu bersih terhadap setiap individu yang memiliki tafsir berbeda dengan versi rezim penguasa. Padahal, sampai hari ini rezim terus memproduksi tafsir-tafsir yang sarat akan opini dan narasi, yang telah keluar jauh dari pokok perkara yang diributkan.
Pokok perkara itu penusukan Wiranto, itu saja. Tapi opininya melebar ke ISIS, JAD, dan akhirnya sampai pada narasi melawan radikalisme dan terorisme. Sementara, publik sudah paham makna radikalisme dan terorisme itu mengarah pada elemen Islam.
Sejak dulu, JAD disebut telah menjadi organisasi radikal. Pada kasus Wiranto, BIN menyebut telah memantau 3 bulan yang lalu. Kenapa bisa kecolongan ? Apakah BIN sengaja mengumpan Wiranto agar menjadi korban ? Untung saja Wiranto tidak tewas, kalau sampai tewas apa tanggungjawab BIN ?
Adapun terkait narasi radikalisme dan terorisme juga absurd. Buktinya, puluhan nyawa melayang, ratusan terluka, ribuan mengungsi dari Wamena, rumah-rumah dibakar, harta benda rusak, sampai saat ini tak pernah muncul narasi radikalisme, terorisme. Padahal, korbannya banyak yang tewas, tidak cuma ditusuk tapi ada yang dibakar hidup-hidup, yang mengungsi sampai saat ini juga terus eksodus keluar dari Wamena.
Apa karena korbannya umat Islam ? Korbannya Rakyat kecil bukan pejabat ? Pelakunya bukan JAD atau ISIS ? Kenapa tak ada unggahan bela sungkawa dan narasi melawan radikalisme dan terorisme di Wamena ?
Karena itu, wajar jika publik melakukan berbagai ferifikasi atas sejumlah opini dan narasi yang diproduksi rezim. Wajar saja jika fakta yang tersaji dipertanyakan publik.
Misalnya saja, soal berita yang awalnya mengabarkan Wiranto selamat dari tusukan hingga akhirnya tertusuk. Dari tidak mengalami pendarahan, yang awalnya cukup dibawa ke klinik, lanjut ke RS di Banten hingga harus dirujuk ke RSPAD. Bahkan, konon hingga operasi besar yang memotong beberapa centimeter usus Wiranto.
Harusnya, berbagai anomali ini cukup diberi penjelasan yang tuntas. Jika jawaban memuaskan akal, kecurigaan publik juga redam.
Namun, nampaknya rezim lebih suka menggunakan pendekatan represifme, bukan hanya terhadap sipil tapi juga terhadap militer. Jonru dan Hanum Rais, dikabarkan dilaporkan polisi. Dandim Kendari dicopot dan disel, istri akan diproses pidana lewat peradilan umum. Anggota TNI AU di Surabaya dicopot dan ditahan. Ini maksudnya apa coba ?
Kalau represifme itu hendak digunakan untuk membungkam nalar sehat, sikap kritis masyarkat, itu keliru. Akal sehat itu tidak bisa dibungkam dengan represifme. Represifme itu justru menyuburkan perlawanan.
Seharusnya, akal sehat itu ditundukan dengan argurmentasi bukan represifme. Bagaimana mau memimpin negeri jika rakyat berbeda pendapat dengan penguasa selalu ditundukan dengan sikap represif.
Rezim ini tidak sadar, represifme ini justru memutus ikatan legitimasi antara rakyat dengan penguasa. Rezim juga tidak sadar, represifme terhadap militer dapat memicu putusnya rantai komando.
Jika rantai komando militer putus, kemudian ada inisiatif membentuk komando baru yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat, komando baru ini melepas kesetiaan kepada rezim, lantas rezim bisa apa ? Kalau ketakutan itu terus dikikis, sampai urat takut militer dan rakyat putus, maka tidak ada penghalang bagi militer dan rakyat untuk berkoalisi melawan politisi busuk yang mengendalikan kekuasaan saat ini.
Karena itu, saya peringatkan kepada rezim : semakin Anda represif, semakin sadar rakyat ini pada kezaliman Anda, semakin mempercepat datangnya perubahan dinegeri ini. [].
Komentar
Posting Komentar