RELASI MENARIK KISAH DI AYAT-AYAT SUCI

Di antara para Du'at yang mampu menceritakan narasi ayat Al Quran dengan menarik adalah Nouman Ali Khan dan Salim a Fillah. Saya menyarikan dari ceramah dan tulisan mereka berdua, tentu ada pengurangan dan penambahan.

Di antaranya adalah ayat ketiga Surat Yusuf 'Nahnu Naqushshu 'Alaika Ahsanal Qashash', "Kami ceritakan padamu sebaik-baik kisah..."
Ayat ini pengantar dalam kisah suka duka Nabi Yusuf, pada ayat selanjutnya.
Sebuah kisah penuh hikmah di tiap scene dan percakapannya, yang diawali mimpi dan akhirnya mimpi tersebut mewujud.

Munasabah atau relasi yang menarik menurut Nouman Ali Khan adalah adanya hubungan surat yang berisi Ahsanul Qoshash tersebut dengan Surat Al Qashash.

Surat Yusuf menceritakan seorang anak yang dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Hal ini terjadi karena bisik-bisik setan dalam kecamuk dengki. Sedangkan Surat Al-Qashash menceritakan seorang bayi yang dilarungkan ke dalam Sungai Nil oleh Ibunya, lalu diikuti dan diawasi oleh saudarinya. Hal ini karena ilham dari Allah kepada Ibunda bayi tersebut.

Surat Yusuf mengisahkan bahwa para kakak lelaki adalah sebab perpisahan sang anak dengan orangtua yang saling mencintai. Menariknya Surat Al-Qashash menceritakan bahwa kakak perempuan adalah sebab pertemuan kembali sang bayi  dengan menawarkan pada keluarga Firaun tentang seorang wanita yang bisa menyusuinya, yang tanpa diketahui mereka adalah ibu kandungnya. Ibu dan anak akhirnya kembali bertemu.

Di Surat Yusuf kita mungkin bertanya dimana sang Ibu Yusuf. Sedangkan di Surat Al Qoshosh kita mungkin bertanya dimanakah Ayahanda Musa. 

Pada Surat Yusuf kita menyaksikan kisah sang Ayah, Yaqub 'alayhi salam; gundahnya, sedihnya, tangisnya, optimisnya, doanya, dan kekhawatirannya sejak Yusuf kecil mengisahkan mimpi yang dia tahu akan menyebabkan masalah jika didengar anak-anaknya yang lain.
Dan pada Surat Al-Qashash kita ikut merasakan kisah Sang Ibu; pada cemasnya, galaunya, doanya, khawatirnya, tersebab melahirkan bayi laki-laki ketika Raja diktator yang tega membunuh para bayi laki-laki. Asbab pembunuhan bayi tersebut juga lagi-lagi karena mimpi.

Dalam Surat Yusuf, yang mengambil sang anak dari pasar budak adalah seorang petinggi Mesir, Al-Aziz. Dalam Surat Al-Qashash yang menemukan si bayi adalah Sang Permaisuri, Imra'atu Fir'aun.

Kedua penemu, baik di Surat Yusuf maupun Surat Al Qashash sama-sama berkata, "'Asaa an yanfa'anaa aw nattakhidzahu walada... Boleh jadi dia akan bermanfaat bagi kita, atau kita ambil saja dia sebagai anak."

Hanya saja Nabiyullah Yusuf dijadikan Yanfa'uhum (bermanfaat bagi mereka) sebagai hamba meskipun disayangi bagaikan anak. Sedangkan Nabiyullah Musa menjadi Pangeran dengan dijadikan sebagai anak (yattakhidzahu walada)

Keduanya diuji oleh Allah. Yusuf diuji di dalam istana tuannya, dengan ujian nafsu syahwat. Musa diuji di luar istana ayah angkatnya, dengan nafsu-amarah.
Uniknya keduanya punya saksi. Saksinya Yusuf meringankan tuduhan dengan menunjuk baju yang sobek di belakang. Saksinya Musa justru nyaris membuat khilaf yang kedua kalinya. Namun akhirnya Yusuf yang tak bersalah justru masuk penjara, sementara Nabi Musa berhasil meloloskan diri ke Madyan.

Nabi Yusuf akhirnya diangkat oleh sang Raja menjadi petinggi yang sangat dihormati di negeri Mesir dan dengan jitu berhasil menyelamatkan negeri Mesir dari kekeringan, sedangkan Nabi Musa dianggap sang Raja akan berbuat makar memecah belah persatuan di negeri Mesir

Nabi Yusuf membawa Ayahnya, Yaqub sang Israil dan keluarganya, Bani Israil bermigrasi ke Mesir dan masuk ke Mesir dengan aman dan selamat. Sedangkan Nabi Musa membawa Bani Israil eksodus keluar dari Mesir untuk menyelamatkan kaumnya.

Kisah Yusuf bermula di luar Mesir, dan berakhir di negeri Mesir. Kisah Musa bermula di Mesir, dan berakhir di luar Mesir.

###

Alangkah menakjubkan kitab suci al-Qur'an. Tentu ayat-ayat ini dari Tuhan bukan dari sisi manusia.

Komentar