Meniti Manhaj Salafush Sholih
Memahami Islam secara Ilmiah dengan standart rujukan manhaj yang benar
Bashiroh dan metode sufi dalam memahami agama
Sebagian orang ada yang menolak, atau berusaha membelokkan, pengertian kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang ada di dalam Al-Qur’an dengan makna yang benar.
Tujuan dan akibat dari pembelokan makna kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) ini adalah perbedaan pemahaman dalam memahami Islam (baca : Manhaj), dengan perbedaan manhaj yang sangat jauh sekali. Hal ini yang nanti akan kami terangkan lebih lanjut.
*
Secara bahasa Arab bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) itu berasal dari kata bashor (بَصَرٌ ). Yang mana bashor (بَصَرٌ )itu berarti mata (atau indera penglihatan) dan juga ilmu. [Lihat : ash-Shihah fi al-Lughah, Al-Jauhari, (via al-Maktabah asy-Syamilah), Juz 1, h. 44.]
Jamak dari bashor (بَصَرٌ ) adalah Abshoor (اَبْصَارٌ ), oleh karena itulah di dalam Al-Qur’an ada istilah “Ulil Abshoor” (اُولِى اْلاَبْصَارِ ) yang berarti orang yang mempunyai ilmu, kecerdasan, wawasan, dan pandangan yang jauh ke depan.
Lihat pemakaian kata “Ulil Abshoor” (اُولِى اْلاَبْصَارِ ) dalam QS. Ali Imran : 13, An-Nuur : 44, Shood : 45, dan Al-Hasyr : 2
Senada dengan arti dari asal kata bashor (بَصَرٌ ), maka kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) juga berarti al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah (argumentasi). [Lihat : Lisan al-Arab, Ibnul Manzhur, (Beirut, dar Shadir, 1882), Cet. I, Juz 4, h. 64.]
Sedangkan Abu Hilal al-‘Askari membedakan antara al-bashirah dengan al-‘ilm (ilmu). Beliau berkata bahwa al-bashirah adalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. [Lihat : Mu’jam al-Furuq al-Lughawiyah, Abu Hilal al-‘Askari , (via al-Maktabah asy-Syamilah), Juz 1, h. 102.]
Senada dengan itu, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahulloh berkata ketika menafsirkan QS. Yusuf : 108 yang menyebutkan kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) sebagai metode dan bekal dakwah. Beliau berkata “Makna dari bashirah adalah ilmu serta pengetahuan yang sempurna terhadap apa yang ia dakwahkan.”
*
Kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) hanya digunakan 2 kali di dalam Al-Qur’an. Yakni di dalam QS. Yusuf : 108 dan QS. Al-Qiyaamah : 14
Pertama,
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (عَلَىٰ بَصِيرَةٍ ), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf : 108]
Bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang dimaksud dalam ayat ini adalah hujjah atau bukti argumentasi. Yakni dalil wahyu nyata yang diturunkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala, yang tidak bisa disangkal keabsahannya. Dan bukti-bukti nyata kekuasaan Allah yang tampak jelas telihat di alam semesta. Yang mana ini difahami dengan ilmu serta pengetahuan yang sempurna.
Secara sederhana pengertian bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang dimaksud dalam ayat ini adalah bukti dan pemahaman dengan berdasarkan dalil, yang diilmui dan diketahui secara sempurna. Dan Tauhid adalah topik utama dari ayat ini. Sehingga dengan bukti dan pemahaman berdasarkan dalil, yang diilmui dan diketahui secara sempurna, maka kita mengajak kepada mentauhidkan Allah dengan sebenar-benar Tauhid agar kita terhindar dari kesyirikan. Walloohu A’lam
Ibnu Katsir rohimahulloh berkata :
يقول [ الله ] تعالى لعبده ورسوله إلى الثقلين : الإنس والجن ، آمرا له أن يخبر الناس : أن هذه سبيله ، أي طريقه ومسلكه وسنته ، وهي الدعوة إلى شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، يدعو إلى الله بها على بصيرة من ذلك ، ويقين وبرهان ، هو وكل من اتبعه ، يدعو إلى ما دعا إليه رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على بصيرة ويقين وبرهان شرعي وعقلي .
Berkata Allah Ta’ala kepada hamba-Nya Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam, untuk disampaikan kepada dua golongan (yakni golongan manusia dan jin), yang diperintahkan untuk dikhabarkan melalui golongan manusia:
Sesungguhnya inilah jalan Rasulullah, atau sunnah Rasulullah, yakni dakwah menyeru kepada persaksian bahwasanya tidak ada ilah kecuali Allah, yang tidak ada sekutu baginya.
Menyeru berdakwah mengajak kepada Allah di atas bashiroh (hujjah) akan hal itu (laa ilaaha illallooh). Dan (juga menyeru) kepada keyakinan beserta bukti-bukti.
Dia (Muhammad) dan seluruh para pengikutnya menyeru kepada Allah di atas bashiroh (hujjah), keyakinan, dan bukti syar’iyyah dan aqliyyah.
—-
Kedua,
بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ )[QS. Al-Qiyaamah : 14]
Yang dimaksud dengan bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) dalam ayat itu adalah, besok di hari kiamat seluruh bagian tubuh manusia akan berhujjah akan apa yang dilakukan oleh sang manusia ini. Seluruh bagian tubuh manusia akan bisa berbicara dan berhujjah menjadi saksi.
Sehingga bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) diterjemahkan dalam terjemahan resmi Depag, “sesuai dengan konteks” kejadian pada hari kiamat di ayat ini, menjadi “saksi atas dirinya”.
Hal ini sebagaimana yang Allah terangkan dalam ayat lain yang berbunyi,
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٦۵)
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan. QS Yasin :65
وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ {19}
حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {20}
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {21}
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ {22}
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ {23}
“Dan (ingatlah) hari (ketika) para musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. “
Kamu senantiasa menyembunyikan dosa-dosamu bukan sekali-kali lantaran kamu takut terhadap persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, tetapi karena kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan ini adalah prasangka jelek yang kamu miliki sangka terhadap Tuhan-mu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Fushilat: 19-23).
Ketika hal itu terjadi di hari kiamat, maka manusia tidak akan bisa mengelak lagi. Oleh karena itu ayat selanjutnya, dalam QS. Al-Qiyaamah : 15 berbunyi,
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. [QS. Al-Qiyaamah : 15]
*
Pengertian kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang sangat jelas baik dari segi pemahaman bahasa Arab, dan juga dari pengertian yang dimaksudkan dalam ayat, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Ternyata hendak ditolak dan dibelokkan, ke pengertian yang tidak pernah ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Sekali lagi kami katakan, pengertian kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) hendak ditolak dan dibelokkan ke pengertian yang tidak pernah ditunjukkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Dan yang dimaksud adalah pengertian kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) dalam QS. Yusuf : 108.
Mereka berkata bahwa kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) itu artinya adalah “mata bathin”, atau “mata hati”, atau kekuatan suci (quwwatu qudsiyyah). Suatu kemampuan hingga bisa memandang jauh ke dalam hingga menyibak tirai penutup ilahi, atau “kasyaf”.
Dengan “penampakan dan kemunculan cahaya keilahian” ( tajalli nur ilahiyyah) sebagai akibat dari disibaknya tirai penutup oleh “kasyaf”. Yang mana kasyaf ini diperoleh dari kekuatan bashiroh. Maka akan terlihatlah hakikat dari segala hakikat (haqiqotul haqooiq). Dan juga akan mendapatkan kemampuan luar biasa (khowariqul ‘adah) sebagai anugerah ilahi. Baik itu kekuatan penyembuhan, tenaga dalam, dan lain-lain.
Hubungan dengan kesalahan memahami agama (baca : kesalahan manhaj) melalui “celah” pengertian kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) dan “tafsir bathiniyyah” yang dipaksa-paksakan ini adalah :
Konsekuensi tafsir pemahaman bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) ini menjadi kunci pembuka, untuk kemudian digiring hingga seakan-akan inilah inti agama yang diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya dalam memahami dan menjalankan agama ini (baca : manhaj). Inilah ajaran agama yang didakwahkan oleh Rasullah dan para Shahabatnya !
Bagaimana tidak, pengertian ini dirangkai dalam satu kesatuan QS. Yusuf : 108
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan di atas bashiroh (عَلَىٰ بَصِيرَةٍ ), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf : 108]
Dari kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang dipaksa-paksakan ini, maka pintu-pintu amalan thoriqot yang diada-adakan untuk memperoleh kemampuan bashiroh dan luar biasa ini menjadi “dipromosikan” untuk diamalkan.
Siapa yang tidak tergiur (baca : tertipu) untuk mendapatkan kasyaf, tajalli nur ilahiyyah, kemampuan luar biasa (khowariqul ‘adah), dan mengetahui hakikat dari segala hakikat (haqiqotul haqooiq). Dan puncak akhir dari hal ini adalah bersatunya hamba dengan rabb-nya, atau wihdatul wujud.
Segala amalan-amalan thoriqot yang diada-adakan, dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya, akan suka hati untuk dilakukan walau seaneh apapun dan sesukar apapun. Baik itu amalan wirid-wirid, dzikir-dzikir, ritual-ritual tertentu, keyakinan-keyakinan tertentu, dan lain-lain.
Baik itu amalan yang didapatkan melalui mimpi, melalui kasyaf, melalui dzauq (perasaan) di hati, kearifan atau ‘Irfan, ataupun pengalaman pribadi; maka semua itu akan dilakukan asal melalui rekomendasi syaikh yang “dianggap” mempunyai tahapan kedudukan lebih tinggi. Yang lebih terbuka nur ilahiyyah nya, dan lebih lebih mempunyai kemampuan bashiroh.
Adapun dalil dan syariat itu dianggap tidak penting, karena itu hanya kulit dan bukan isi hakikat bagi orang yang menempuh jalan thoriqot.
Dalam kultur jawa pengertian bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang dipaksa-paksa itu hampir mirip dengan istilah “weruh sakdurunge winarah” . Yakni kemampuan untuk melihat sesuatu baik secara dhohir ataupun bathin, sebelum sesuatu itu terjadi. Hal ini bisa didapatkan karena dia telah berhasil mendapatkan kemampuan untuk menyibak alam ghoib, dan mengetahui hakikat dari sesuatu.
*
Manhaj salah dalam memahami agama akibat terjebak dalam perangkap tafsir bathini bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) QS. Yusuf : 108 ini, kita bantah sebagai berikut :
1. Bahwasanya manhaj memahami agama seperti ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.
2. Aqidah seperti ini merupakan infiltrasi aqidah agama-agama dan pemahaman filosof kuffar, yang masuk dan bersinkretisme dengan mengatasnamakan Islam. Lihat penjabaran Ilmiah dari Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Dhohir dalam kitab beliau “Sejarah Hitam Tasawuf”, dan “Darah Hitam Tasawuf” yang merupakan terjemahan penerbit Darul Falah.
3. Pengertian kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) yang dipaksa-paksakan ini bertentangan dengan arti dalam bahasa Arab asli, dan korelasi-nya dengan ayat-ayat yang lain.
4. Tidak ada tafsir Ahlus Sunnah yang mu’tabar yang berpegang kepada sunnah dan atsar-atsar, yang mentafsirkan seperti itu.
5. QS Yusuf ayat 108 merupakan jenis ayat muhkamat yang jelas arti dan maknanya.
6. Kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) hanya disebutkan oleh Allah sebanyak 2 kali di dalam Al-Qur’an, yakni dalam QS. Yusuf : 108 dan QS. Al-Qiyaamah : 14. Jika orang tersebut bersikeras bahwa bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) itu berarti mata bathin, maka apa gunanya “mata bathin” itu pada hari kiamat sehingga Allah menyebutkan kata bashiroh (بَصِيْرَةٌ ) dalam QS. Al-Qiyaamah : 14 ?
7. Dan yang bersaksi pada hari kiamat adalah seluruh anggota tubuh manusia, kecuali mulut yang terkunci. Maka apakah setiap anggota tubuh itu berarti akan mendapatkan kemampuan bashiroh yang pengertiannya dipaksa-paksakan itu?
*
Semoga nasehat dan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Baarokalloohu fiik
Komentar
Posting Komentar