NAFSU dapat kita jadikan kendaraan untuk menuju surga jika kita dapat mengendalikannya. Nafsu itu adakalanya jahat, adakalanya baik. Nafsu akan jadi baik bila dilatih.
Al-Imam Al-Ghazali mengibaratkan nafsu itu sebagai anjing, yang bila dilatih dia akan dapat menjadi baik.
Berikut tujuh peringkat nafsu dalam Islam: 1. Nafsu Ammarah. 2. Nafsu Lawwamah. 3. Nafsu Mutmainnah. 4. Nafsu Mulhamah. 5. Nafsu Radhiah. 6. Nafsu Mardhiya h. 7. Nafsu Kamilah.
1. Nafsu Ammarah
Nafsu ammarah adalah dorongan untuk melakukan pelanggaran, kejahatan dan kemaksiatan. Karena itu tidak ada manusia yang steril dari dosa.Nafsu ammarah meliputi sifat-sifat seperti banyak makan, banyak tidur, banyak kawin, yang diistilahkan nafsu kebinatangan manusia, nisca ya gerak hidupnya seperti binatang, sifat-sifatnya selaku cenderung berbuat maksiat baik lahir maupun batin. Maksiat batin adalah kekejian yang tersembunyi di dalam jiwa.
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Q.S. Yusuf : 53).
2. Nafsu Lawwamah
Tak lain dan tak bukan adalah nafsu setan yang mendekam pada diri manusia. Ia selalu membi sikkan dan mengajak untuk berbuat keji. Ciri-ciri yang jiwanya dikuasai nafsu lawwamah ialah watak dan jiwanya dikuasai kefasikan, yaitu nafsu yang suka mengoreksi ketika ia melakukan dosa atau kemaksiatan tapi berkhianat atau berbohong pada dirinya sendiri. Misalnya, mengetahui dan menyesali perbuatannya salah tapi masih mengulangi lagi perbuatan salahnya itu. Siapa yang pertama kali mengingatkan bahwa perbuatan itu salah? Tentunya diri kita sendiri.
“Dan Aku bersumpah dengan jiwa (nafsu) yang amat menyesali (dirinya).” (QS Al-Qiyamah : 2).
3. Nafsu Muthmainnah
Nafsu Muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwa merasa tenang dan tentram kalau melaksanakan aturan-aturan Allah SWT dan berbuat berbagai kebajkan. Manusia yang paling bejat sekalipun memiliki Nafsu Mutmainnah. Hakikatnya manusia itu hanif (cenderung pada kebaikan), karena itu manusia akan merasa tenang, tentram dan bangga kalau sudah berbuat kebaikan. Sebaliknya ia merasa gelisah dan menyesal bila melakukan pelanggaran dan dosa.
”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al Fajr : 27-30).
4. Nafsu Mulhamah
Yaitu berupa murah hati, suka terima adanya takdir ilahi, ramah, beradab (sopan santun), tobat, sabar (tahan uji), suka menanggung beban berat pada suatu kepentingan agama.
Firman Allah SWT: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, jalan kejahatan dan ketakwaannya.” (QS Asy-Syams : 8).
Bagaimana rasa hati orang yang memiliki Nafsu Mulhamah ini? Apabila hendak berbuat amal kebajikan terasa berat. Dalam keadaan bermujahadah dia berbuat kebaikan karena sudah mulai takut akan kemurkaan Allah SWT dan neraka. Bila berhadapan dengan kemaksiatan, hatinya masih rindu dengan maksiat, tetapi hatinya dapat melawan dengan mengenangkan nikmat surga.
Dalam hatinya masih banyak sifat-sifat mazmumah. Dia sudah dapat mengenali penyakit yang ada dalam dirinya. Cuma tidak dapat dilawan. Di mencoba beribadah dengan sabar.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepada orang ini yang artinya: “Beribadahlah kepada Allah dalam dirinya, Cuma tidak boleh rasa syukur dengan rasa sabar.”
5. Nafsu Radhiah
Bijaksana, zuhud, ikhlas, wara’ (menjaga dari haram, makruh), bersemangat (pantang menyerah) dalam beribadah, menunaikan kewajiban. Sifatnya Nafsu Radhiah, walau sekecil apapun lara ngan, ia akan tinggalkan sungguh-sungguh. Bila dia makruh, dia anggap macam haram, yang sunat dia anggap macam wajib. Kalau tidak buat yang sunnat seolah-olah rasa berdosa. Mereka akan (rasa) menderita bila sahabatnya terjerumus kepada maksiat. Mereka akan doakan khusus untuk sahabatnya itu di malam hari agar terselamatkan dari maksiat.
Mereka ini banyak mendapat pertolongan dari Allah, di antaranya firasat yang Allah berikan, mereka mudah kenal dengan orang yang berbuat maksiat atau tidak. Mereka mudah memimpin masyarakat, sebab mengenali sifat-sifat hati. Orang yang dia didik nasihat-nasihatnya tepat. Bila mereka dihalau dari masyarakat, tunggulah bala Allah SWT akan turun. Banyak lahir karamah-karamah dari mereka. Mulutnya masin, apa yang disebut insya Allah akan terjadi.
6. Nafsu Mardhiyah
Maqam ini adalah yang tertinggi dari maqam radhiah karena percakapan ata kelakuan mereka diridhai Allah SWT. Jiwa mereka, perasaan mereka, lintasan hati mereka, gerak gerik mereka, penglihatan, pendengaran,pancaindra, penumbuk penerajang mereka, kesemuanya diridhai-Nya.
Mereka yang tel ah sampai ke peringkat Nafsu Mardhiah kelihatan lebih tenang dan tentram. Hati dan jiwanya benar-benar sebati (menyatu, pen) dengan Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang, maka dekatilah dia. Sesungguhnya dia akan mengajar kamu hikmat.” (HR Ibnu Majah).
Orang yang berada di peringkat nafsu ini apa saja yang mereka lakukan mendapat keridhaan Allah SWT. Mereka inilah yang disebut dalam hadist Qudsi: “Mereka melihat dengan pandangan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, berkata-kata dengan kata-kata Allah.”
Perilakunya, kata-katanya, diamnya semua dengan keridhaan dan keizinan Allah SWT belaka. Af’al diri mereka sudah dinafi dan dinisbahkan secara langsung kepada af’al Allah semata. Jiwa mereka betul-betul sebati. Ingatan mereka terhadap Allah SWT tidak sesaat pun berpisah dari-Nya.
Peringkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. Pada peringkat inilah suka mengasingkan diri, tidak suka bergaul lagi dengan makhluk. Namun begitu ia mempunyai kesadaran dua alam sekaligus. Zahir dan batin. Dia akan kembali normal seperti biasa.
Zikirnya adalah zikir rahasia, tidak ada lagi lafaz dengan lidah dan hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin mengucapkan dengan zikir rahasia yang didengar oleh telinga batin di maqam tanaf fas. Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir walaupun dia tengah bercakap.
Dari segi ilmu, mereka sudah memperoleh ilmu semua peringkat sebelum ini yaitu nur, tajalli, sir, sirussir dan dengan cara tawasul.
7. Nafsu Kamilah
Nafsu Kamilah adalah jiwa yang sempurna. Inilah tingkatan tertinggi dari nafsu dan membawa manusia pada tingkatan tertinggi melampaui para malaikat Allah. Inilah jiwa para Nabi dan Rasul Allah. Jiwa ini tidak lagi mengenal dirinya karena sesuatu yang diadakan (maujud) akan kembali kepada yang mengadakan (wujud) sehingga jiwa ini adalah cermin dari yang Maha Wujud. Inilah jiwa para Rasul atau utusan yang merubah akhlak manusia menuju akhlak yang diridhai Allah SWT. Jiwa ini telah mencapai tingkatan baqo atau kekal akan hadirat Allah dalam mensifati diri dan perbutannya.
UNTUK meraih nafsu dari level/tingkatan yang paing bawah hingga level di atasnya dibutuhkan waktu bertahun-tahun, hingga Allah SWT yakin dengan usahanya. Dalam kitab Qotrul Ghaist disebutkan titik-titik nafsu pada tubuh manusia.
- Nafsu Ammarah
Letaknya di bagian dada agak sebelah kiri. Tabiatnya senang berlebih-lebihan, royal, hura-hura, serakah, dengki, dendam, iri, membenci orang, tidak tahu kewajiban, sombong, tinggi hati, senang menuruti syahwat, suka marah-marah dan akhirnya gelap tidak mengetahui Tuhannya.
- Nafu Lawwamah
Letaknya di dalam hati sanubari di bawah susu yang kiri kira-kira dua jari. Tabiatnya acuh, senang memuji diri, pamer, senang mencari aibnya oran lain, senang menganiaya, berdusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
- Nafsu Mulhimah
Tempatnya kira-kira dua jari kea rah susu yang kanan dari tengah dada. Tabiatnya suka memberi, sederhana, menerima apa adanya, belas kasih, lemah lembut, merendahkan diri, tobat, sabar dan tahan menghadapi kesulitan serta siap menanggung betapa berat dan lelahnya melaksanakan kewajiban.
- Nafsu Muthmainnah
Letaknya di dalam rasa kira-kira dua jari kea rah susu kiri dari tengah-tengah dada. Tabiatnya senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, senang bersyukur kepada Tuhan, ridha kepada hukum ketentuan Allah dan takut kepada-Nya.
- Nafsu Radhiyah
Tempatnya di dalam hati nurani dan di seluruh jasad. Tabiatnya pribadi yang mulia. zuhud, ikhlas, wara, riyadhah dan menepati janji.
- Nafsu Mardhiyah
Tempatnya di alam yang samar, mengarah kira-kira dua jari ke tengah dada. Tabiatnya bagus budi pekerti, bersih dari segala dosa, senang mengajak dan memberi nasihat kepada semua makhluk.
- Nafsu Kamilah
Tempatnya di alam yang samar di tengah dada. Mengarah di kedalaman dada yang paling dalam. Tabiatnya: ilmu yakin, ainul yakin dan haqqul yakin.
Wallahu A'lam.
Editor: H. D. Aditya
Komentar
Posting Komentar